Dosen FISIPOL Unesa Gambarkan Ibuisme Terselubung dalam Perayaan Hari Ibu
fisipol.unesa.ac.id, Surabaya - Tanggal 22 Desember dikenal sebagai Hari Ibu di Indonesia, momen untuk menghargai sosok ibu, bukan sekadar ucapan selamat atau hadiah bunga.
Namun, menurut Putri Aisyiyah Rachma Dewi, M.Med.Kom, Dosen Prodi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, perayaan ini sering kali justru mereproduksi narasi yang mempersempit perempuan sebagai objek belaka, tanpa mengakui otonomi dan agensi mereka secara penuh.
Dalam artikel opini ini, Putri Aisyiyah mengajak pembaca menyelami pengalaman nyata dari sebuah forum sosial tentang perlindungan perempuan dan anak, di mana banyak perempuan hadir sebagai audience, tetapi tidak diposisikan sebagai pembuat keputusan.
Kritik ini kemudian ditautkan ke sejarah ibuisme negara melalui organisasi seperti PKK, yang menempatkan perempuan pada peran reproduktif dan domestik sepanjang era Orde Baru.
Istilah ibuisme sendiri merujuk pada ideologi yang menempatkan perempuan hanya sebagai ibu, istri, dan pengurus rumah tangga — yang pada akhirnya bisa mengaburkan hak politik, suara sosial, dan peran perempuan dalam kebijakan publik yang setara.
Artikel ini kemudian mengajukan pertanyaan penting: Apakah program pemberdayaan perempuan benar-benar memperkuat posisi mereka dalam pembangunan? Atau justru hanya menciptakan narasi simbolik tanpa perubahan substansial?
Klik di bawah ini untuk membaca artikel lengkap dari Putri Aisyiyah Rachma Dewi di konde.co dan mari kita pikirkan bersama makna sesungguhnya dari Hari Ibu di Indonesia
“Mau Merayakan Hari Ibu, Malah Jadi Ibuisme: Perempuan Dianggap Tanpa Otonomi dan Agensi” — konde.co
Share It On: